GerakIngatan berupaya menghimpun dan merangkum, mengurasi (menyeleksi), dan mengaktifkan arsip, dokumentasi dan catatan tentang gerakan kiri Indonesia. Gerakan kiri di sini mengambil pengertian ideologi kiri yang luas, sehingga juga mencakup gerakan anti kolonialisme, anti kapitalisme, dan berbagai gerakan perjuangan, buruh, pemuda, perempuan, pers, pendidikan dan politik anti fasisme, dan anti otoriterisme, serta pro demokrasi. 

GerakIngatan lahir karena banyak ingatan yang tak bergerak (lagi). Sampai saat ini, memori, arsip, dan sejarah kalangan kiri tersebar di mana-mana, tidak terhimpun bahkan juga terabaikan dan terkubur. Situasi ini ikut mengakibatkan narasi gerakan kiri terbungkam dan terpinggirkan dalam narasi utama historiografi Indonesia. Selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru, gerakan kiri tidak pernah masuk dalam sejarah nasional. Acuan narasi utama Orde Baru mengaburkan pemahaman kita atas gerakan kiri, dinamika pergerakan dan kisah mereka yang terlibat di dalamnya

Meluaskan pemahaman tentang gerakan kiri di masa lalu dapat membantu kita membayangkan berbagai kemungkinan untuk gerakan progresif di masa kini. Menginspirasi kita untuk terus begerak melawan kekuasaan yang menindas, dulu dan sekarang. 

Karenanya, GerakIngatan berniat tidak hanya mencari dan menyimpan dokumen gerakan kiri, tapi juga menceritakannya lebih jauh untuk menambah riak ingatan kita. Pada cerita dari arsip, kami mendeskripsikan secara ringkas kisah di balik sebuah arsip. Sedangkan pada koleksi, kami menghimpun dan menghubungkan arsip-arsip yang seringkali terserak menjadi sebuah rangkaian. Dalam eksposisi, kami menarasikan arsip-arsip itu untuk mengisahkan sekelumit ingatan dari gerakan kiri Indonesia.  


Eksposisi

  • Go Gien Tjwan: Dari Garis Kiri Memperjuangkan Anti-Rasialisme

    Dari garis kiri memperjuangkan anti-rasialisme terhadap Tionghoa Indonesia, itulah yang setia dilakukan Go Gien Tjwan (1920-2018). Baginya, hak sipil, politik, dan ekonomi sama bernilainya, dan berlaku untuk setiap manusia tanpa pandang kelas dan rasnya. Go adalah salah satu pendiri Baperki yang mengadvokasi hak kewarganegaraan Indonesia. Pada 1965, ia dipenjara bersama banyak anggota Baperki lainnya. Setelah berhasil keluar dari penjara dengan bantuan sahabatnya yang berbeda ideologi, Adam Malik, ia akhirnya menjadi eksil di Amstelveen. Di sini pun, ia tak berhenti bergerak. Sembari menulis dan mengajar di Universitas Amsterdam, Go ikut mendirikan Komitee Indonesië dan aktif di berbagai organisasi eksil lainnya.

    Di Malang, Go muda menggerakkan bagian penerangan Angkatan Muda Tionghoa yang pro-kemerdekaan Indonesia. Ia bergabung dengan  Partai Sosialis pada masa revolusi, lantas dikirim partai untuk belajar antropologi di Leiden. Sembari sekolah, ia menjadi perwakilan pemuda dalam menggalang dukungan atas kedaulatan Indonesia. Go juga turut serta dalam Kongres Perdamaian tahun 1949. Di Belanda, ia mendirikan perwakilan kantor berita Antara pertama di luar negeri pada tahun 1951. Tak hanya itu, Go bersama Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Sunito, juga memimpin organisasi pelajar Perhimpoenan Indonesia. Mereka berdua kemudian ditangkap pemerintah Belanda dan diusir pulang dengan tuduhan melakukan kegiatan politik yang tidak diinginkan yakni komunisme. Namun, Go datang kembali ke Eropa kali ini untuk melanjutkan studi. Tahun 1962, ia menjadi orang Indonesia pertama yang meraih promosi doktor di Université libre de Bruxelles, di bawah bimbingan W.F. Wertheim.

    *Tulisan dalam eksposisi ini berasal dari penelitian arsip-arsip Go GIen Tjwan, termasuk draft autobiografi yang ia tulis, juga dua buku karyanya: "Desa Dadap - Wujud Bhinneka Tunggal Ika" dan "Tulisan Pilihan dari Pengasingan."

    Halaman terakhir eksposisi ini menyajikan terjemahan adaptasi dari obituari Go Gien Tjwan yang ditulis Fridus Steijlen untuk newsletter Museum Maluku di Belanda, Oktober 2018. 

  • Menelusuri Jejak Penyebutan G30S/PKI

    Eksposisi kali ini bermula dari satu pertanyaan: sedini apakah kata PKI dilekatkan persis di belakang G30S? Pertanyaan yang acapkali menyeruak di berbagai kesempatan, baik lewat percakapan langsung atau perbincangan di medium virtual. Sebagian menyebut bahwa penggabungan kata G30S dan PKI dimulai ketika Suharto secara resmi memiliki kekuatan penuh dan ajeg dalam pemerintahan selepas ia memenangkan pemilu tahun 1971. Apakah benar demikian?

    Hingga kini, sayangnya tak banyak yang secara persis membahas persoalan ini. Ada dua sebab. Pertama, anggapan naif bahwa G30S/PKI telah ditulis sedemikian sedari awal, yaitu sejak perisitiwa di dini hari pertama bulan Oktober 1965. Kedua, peremehan bahwa isu ini tak berarti banyak bagi sejarah bangsa sementara ada persoalan lebih besar yang harus diperhatikan.

    Melalui penelusuran awal sejumlah dokumen negara dan pemberitaan di media cetak, khususnya Kompas, ekposisi ini ingin mulai mencari tahu kisah awal bagaimana terminologi G30S PKI digunakan.

    Penelusuran ini adalah langkah kecil untuk mengurai kebungkaman sejarah prahara 1965. Di sini, tertuang ajakan untuk merawat ingatan sekaligus nalar, yakni dengan tidak menelan mentah-mentah narasi utama sebagai suatu hal yang utuh.

  • Komitee Indonesië, Perlawanan Lintas-Batas

    Pada periode 1960-an hingga 1980-an, bermunculan berbagai kelompok solidaritas di Belanda yang menyoroti keadaan dan memperjuangkan keadilan bagi berbagai negara Dunia Ketiga. Salah satunya adalah Komitee Indonesië, yang dibentuk lewat prakarsa Wim Wertheim, Slamet Faiman, Go Gien Tjwan dan Jan Pluvier. 

    Komitee Indonesië (1968-2000) hadir sebagai respons langsung terhadap naiknya rezim militer Soeharto dan persekusi yang secara khusus menyasar kelompok kiri Indonesia. Fokus awal kelompok solidaritas ini adalah kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada 1965/1966 dan advokasi bagi para tahanan politik, terutama mereka yang menghadapi eksekusi mati. Dalam perjalanannya, agenda perjuangan Komitee Indonesië kemudian meluas, kendati tetap konsisten dalam melawan kekerasan Orde Baru yang acapkali berkaitan dengan agenda pembangunan. Antara lain, yang pernah diperjuangkan Komitee Indonesië mencakup: kampanye antiperdagangan senjata ke Indonesia, kritik dan tentangan terhadap bantuan pembangunan melalui IGGI, serta perjuangan untuk pembebasan Timor-Leste. Komitee Indonesië juga banyak melakukan edukasi politik untuk meningkatkan pemahaman publik terhadap situasi politik di masa Orde Baru. Tak hanya itu, Komitee Indonesië juga memiliki jejak dalam kerja budaya: kelompok ini punya andil dalam menerjemahkan tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya yang memberitakan pada dunia tentang kekerasan Orde Baru. 

    Kerja dan gerak Komitee Indonesië banyak berkait dengan perjuangan para eksil di Belanda. Beranggotakan berbagai individu dari lingkaran akademik, aktivisme dan seni, dan beraliansi dengan berbagai kelompok gerakan, Komitee Indonesië menjadi sebuah contoh untuk memetik pelajaran mengenai solidaritas lintas-batas. 

Koleksi

  • Koleksi Penulusuran Penulisan G30S PKI

    Sejak kapan nama PKI diidentifikasi sebagai pelaku Tragedi G 30 S? Ternyata tidak serta merta terjadi, tetapi melalui berbagai proses kejanggalan dan alasan

    View the items in Koleksi Penulusuran Penulisan G30S PKI
  • Koleksi Djawoto

    Sedari remaja, gerak-gerik Djawoto (1906-1992) sudah diawasi oleh pemerintah kolonial. Ia dikenang utamanya sebagai jurnalis dan diplomat. Namun ia pernah juga menjadi seorang guru, dan lebur dalam berbagai kerja pergerakan dalam aneka ragam bentuknya. Nasionalisme, adalah inspirasi bagi Djawoto muda.

    Setelah Indonesia merdeka, ia mantap memilih menapaki karir jurnalistik. Sebagai wartawan kawakan, namanya lekat dengan kantor berita Antara, yang turut ia besarkan. Ia juga punya peran besar dalam Persatuan Wartawan Indonesia. Disayangkan, rekam jejaknya dalam dua organisasi ini banyak dikaburkan. Pun demikian, goresan tajam jurnalistiknya masih bisa ditelusuri lewat publikasi Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA), asosiasi yang lahir dari semangat Konferensi Asia-Afrika.

    Sebagai diplomat, keputusannya mengundurkan diri dari jabatan Duta Besar untuk RRT di tahun 1966 memberi gambaran tentang keteguhannya dalam mengikuti nurani, bukan kuasa. Setelah kudeta Soeharto, ia memilih praktik internasionalisme yang lain, dan memindahkan basis kerja PWAA ke Peking, hingga tahun 1974. Di akhir dekade 1970-an, Djawoto membawa keluarganya pindah ke Belanda, di mana ia terus menjadi eksil hingga akhir hayatnya.

    View the items in Koleksi Djawoto