Menggerakkan Buruh Perempuan

Setiati muda

Setiati lahir di Banyuwangi, 23 Februari 1920. Ia anak kedua dari 8 bersaudara, lima laki-laki dan tiga perempuan. Keluarganya penganut agama Islam yang taat dan ia dibesarkan sebagai perempuan Muslim. Semenjak masuk di bangku sekolah menengah Setiati mulai aktif dalam organisasi kepemudaan. Awalnya, ia bergiat di Jong Islamieten Bond (Perhimpunan Pemuda Islam) tetapi kemudian memilih bergabung dengan Indonesia Muda yang lebih bersifat sekuler dan revolusioner.  

Pada masa mudanya, Setiati bekerja sebagai guru di sekolah partikelir Arjuna, sambil menyelesaikan sekolahnya di AMS, Jakarta. Kemudian di masa penjajahan Jepang, ia mendapat tawaran untuk menjadi asisten dan penerjemah Ki Hadjar Dewantara yang waktu itu bekerja sebagai pegawai tinggi Departemen Pendidikan di bawah Jepang.

Sembari bekerja di sana, Setiati bergabung dalam sebuah organisasi bernama Pekerja Perempuan Indonesia. Ketuanya adalah Maria Ulfah, sedangkan Setiati menjadi wakil ketua. Mereka terutama membantu para perempuan, yang karena keluarganya terkena kekerasan Jepang atau karena menganggur, terpaksa menjadi pelayan dan bahkan jugun ianfu (comfort women) atau wanita penghibur untuk melayani pria Jepang.  

Njono yang mengajak Setiati bergabung ke gerakan buruh.

Selanjutnya ia lebih terlibat dengan situasi kaum buruh perempuan karena melihat ketidak-adilan berlapis-lapis yang dialami perempuan pekerja. Keterlibatannya di sini berawal dari tawaran seorang pria yang tak dikenalnya. “Ada yang namanya Njono dari Domei, saya curiga karena Domei itu Jepang. Ternyata dia muridnya Ki Hadjar di Taman Siswa. Njono minta izin dengan Ki Hadjar untuk ngomong sama saya. Katanya dia dengar saya pimpinan pekerja Perempuan Indonesia. Dia minta saya masuk ke serikat buruh, tadinya saya enggak mau. Tapi dia kemukakan bagaimana kondisi buruh wanita yang menderita, nah cocok sama saya. Saya masuk,” ujar Setiati kepada Hersri Setiawan di tahun 1996. Setiati pun mendapat tugas membentuk serikat buruh dalam Departemen Pendidikan.

Njono adalah pendiri Barisan Buruh Indonesia (BBI) tahun 1945 yang nantinya melebur menjadi SOBSI. Pada waktu itu, BBI bertujuan menyatukan dan mengoordinasikan buruh dari berbagai industri, demi kepentingan perjuangan kemerdekaan. Mereka misalnya terlibat dalam upaya merebut perusahaan-perusahaan yang masih dikelola oleh orang Belanda untuk diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Aksi Buruh Perempuan

Setiati mulai menemukan tempatnya dalam BBI. Pada saat yang bersamaan, ia masih bergiat dalam Pekerja Perempuan Indonesia. Pada suatu titik, ia mendapat teguran dari Maria Ulfah yang memintanya memilih salah satu dari dua organisasi tersebut. “'Kalau kamu tetep mau di Pekerja Perempuan Indonesia, lepaskan serikat buruh. Sebab serikat buruh Itu merah!' Saya pikir-pikir, lalu saya lepaskan Pekerja Perempuan, karena memang enggak cocok sengan serikat buruh. Serikat buruh itu lebih terbuka, dia melakukan aksi-aksi dan melawan NICA,” tukasnya dalam wawancara dengan Hersri yang sekarang menjadi bagian arsip Oral History Collection, In Search of the Silenced Voice yang tersimpan di International Institute of Social History, Amsterdam.

Sesuai dengan pembicaraannya dengan Njono, kongres BBI pada 25-26 Januari 1946 di Kediri memutuskan untuk mendirikan Barisan Buruh Wanita (BBW) sebagai salah organ di bawah BBI. Ketuanya adalah S.K. Trimurti (1912-2008), yang kemudian menjadi Menteri Perburuhan pertama RI (1947-1948). Program kerja BBW antara lain bergerak dalam badan-badan perjuangan, dapur-dapur umum, kerja sama dengan gerakan-gerakan massa wanita, dan menginisiasi pendidikan kader wanita.

Salah satu kegiatan utama BBW yakni mengadakan pelatihan sosial dan politik bagi buruh-buruh perempuan di Jawa melalui berbagai kursus. Dalam kursus-kursus tersebut, para peserta kursus diberi materi pelatihan bagi pemahaman keseharian buruh perempuan. Setiati menyatakan bahwa BBW selama tahun 1945-1947 aktif memelopori gerakan wanita nasionalis yang berhaluan pro Republik Indonesia. BBW Jakarta juga aktif menyelenggarakan Hari Buruh 1 Mei dan di banyak tempat membantu BBI merayakan Hari Kemenangan Buruh.

Salah satu hal yang masih dikenang jelas oleh Setiati adalah aksi jalan kaum perempuan untuk memperingati satu tahun proklamasi di tahun 1946. Sehari sebelum aksi, Walikota Jakarta Suwiryo berkata aksi itu tidak bisa digelar karena gedung kotapraja sudah dikepung oleh pasukan Gurkha. Kemudian, datanglah Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri bersama Maria Ulfah yang mendengar rencana aksi itu. “Wanita-wanita terus jalan, nerobos pager...terus ke kereta api Cikini ke Gedung Proklamasi itu. Sudah ada tank di jalan. Jangan takut, jangan takut. Di situ, Sjahrir ngomong dengan orang-orang Gurkha: We are mothers and sisters, like your mothers and sisters. We have no weapons. Mereka mundur, buka jalan, dan kita masuk,” tuturnya.

Setiati dan suaminya, Soerasto, adalah pengurus BBI Jakarta

Menemukan Cinta di Serikat Buruh

Dalam kegiatannya bersama serikat buruh, Setiati bertemu jodohnya. Ia berjumpa Soerasto yang kelak menjadi suaminya. Pada waktu itu Soerasti bekerja bersama Wilopo di jawatan sosial, yang bertugas membantu orang-orang yang tidak jadi berangkat atau yang sudah pulang dari kerja paksa romusha.

Menjalin asmara di kala revolusi tentu sama sekali berbeda dengan masa sekarang. Di masa itu, Setiati dan Soerasto justru giat melakukan upaya bersama menggalang buruh. Mereka berdua membantu membentuk serikat buruh pelabuhan di Jakarta.

Pada 1947, terjadi Agresi Militer Belanda ke-I. Banyak anggota serikat buruh yang ditangkap. Mereka tak bisa banyak bergerak. Setiati mengungsi bersama Soerasto ke desa terpencil tempat tinggal salah satu keluarga Soerasto. “Lalu oleh partai, oleh Pak Madjid (Abdulmadjid), dia yang waktu itu banyak mengurus kita, dia bilang kawin saja. Dikawinkanlah kita. Ada penghulu, tapi surat nikahnya kan surat penghulu republik. Nggak laku surat itu.” Alhasil, ketika di tahun 1951, Soerasto menjadi pegawai negeri tinggi di Kementerian Sosial dan ditanya surat kawinnya, suratnya dianggap tidak ada. Pasangan ini pun kemudian menikah ulang di tahun 1951.

Bersama Soerasto, Setiati memiliki dua orang anak. Mereka tinggal di Gang Tengah No. 29, Jakarta, sambil menjadikan rumahnya sebagai markas berkumpulnya orang-orang serikat buruh dan tempat kerja redaksi majalah Pekerdja. Rumah itu juga sempat menjadi markas Palang Merah Indonesia.

Pada tahun 1952, kebahagiaan di tengah kesibukan di Gang Tengah 29 terguncang kematian Soerasto. Untuk mengobati lukanya, Setiati menenggelamkan diri dalam kesibukannya di dunia buruh. Tak lama setelah suaminya meninggal, ia bergabung dengan Sarbupri dengan ajakan dari adiknya, Pranoto, yang sudah lebih dulu aktif di sana. “Karena kegiatan Sarbupri banyak, saya jadi terhibur,” ungkapnya.

Di Sarbupri, ia menjadi sekretaris di bagian sosial ekonomi dan aktif melakukan kunjungan ke berbagai daerah untuk melakukan peninjauan sekaligus protes mengenai ketidakadilan terhadap buruh perempuan. Pada 1952-1953, ia ikut memprotes pemerintah mengenai upah lembur di perusahaan-perusahaan di Pantai Timur Sumatra.

Selanjutnya dan seumur hidupnya, Setiati tidak pernah menikah lagi. Ketika ditanya alasannya ia mengatakan ada dua hal. Yang pertama bahwa perasaaannya terhadap suaminya terlalu mendalam, ia tak pernah punya perasaaan yang sama ke orang lain. “Kedua, kalau kata teman, kamu itu pagar tinggi, nggak ada yg berani. Entahlah, saya sendiri karena saya dalam tanda kutip karieris, maunya berjuang saja... sampai ke Tiongkok juga, ya bagaimana ya, kesepian juga enggak karena saya punya dua anak. Pokoknya bagaimana kedua anak saya menjadi orang baik.”